Reportase Seminar Filantropi Kesehatan Software Development Crowdfunding Untuk Mendukung Rumah Sakit Non Profit

seminar filantropi kesehatanPembiayaan kesehatan merupakan topik yang hangat dibahas saat ini, terlebih sejak memasuki era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Isu - isu yang sering diangkat terkait topik tersebut diantaranya defisit dana di Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJSK), sumber dana kesehatan yang dirasa kurang, keterbatasan peran pemerintah (berhubungan dengan kebijakan perpajakan), dan persoalan equity. Salah satu pihak yang sangat merasakan dampak dari permasalahan ini adalah rumah sakit. Aliran dana dan perkembangan infrastruktur maupun Sumber Daya Manusia (SDM) rumah sakit tidak dapat berjalan dengan baik. Menanggapi permasalahan tersebut, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menginisiasi melakukan inovasi digital berbasis filantropi sebagai solusi alternatif pendanaan rumah sakit.

PKMK UGM resmi me-launching dan mensosialisasikan website crowdfunding pada Rabu, 27 Maret 2019 di Auditorium Gedung Pascasarjana Tahir Foundation dengan mengusung tema acara “Software  Development Crowdfunding untuk Mendukung Rumah Sakit NonProfit”. Acara ini dihadiri oleh pengurus Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) dan Filantropi Indonesia serta beberapa ahli di bidang Teknologi Informasi (TI) sebagai narasumber. Selain itu, rumah sakit yang merupakan sasaran utama dalam kegiatan ini juga berpartisipasi dengan mengirim perwakilannya  baik sebagai peserta tatap muka maupun via webinar. Beberapa mahasiswa baik dari dalam maupun luar UGM juga turut aktif mengikuti seminar ini.

Acara diawali dengan pengantar mengenai filantropi kesehatan oleh dr. Jodi Visnu, MPH yang merupakan salah satu peneliti filantropi di UGM. Poin penting yang disampaikan yaitu keterkaitan antara filantropi dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2017 Tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang membahas tentang filantropi untuk membantu masyarakat dengan ekonomi kurang mampu, pendanaan kesehatan secara sukarela, dan memajukan kesejahteraan sosial. Output yang diharapkan dari seminar ini adalah adanya masukan yang applicable untuk kemajuan rumah sakit khususnya dalam hal pendanaan dengan mengaktifkan kembali filantropi.

Pada sesi pertama, Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD selaku Guru Besar Universitas Gadjah Mada yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Kompartemen Penelitian dan Pengembangan (Litbang) PERSI memaparkan mengenai peran crowdfunding dalam mendukung pendanaan rumah sakit non profit. Permasalahan pendanaan rumah sakit dalam era JKN jika dilihat dari Teori Circular Flow untuk supply dan demand adalah adanya “kegagalan pasar”. Pada sisi supply, rumah sakit menentukan tarif berdasarkan prinsip ekonomi, sedangkan dari sisi demand masyarakat miskin tidak mampu mengakses pelayanan karena kurangnya dana. Untuk mengintervensi permasalahan tersebut, pemerintah memberikan subsidi kepada rumah sakit dan insentif  bagi para dokter  untuk menurunkan tarif rumah sakit serta memberikan bantuan dana iuran peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) JKN.

Ironisnya, intervensi pemerintah yang terjadi selama lima tahun terakhir tidak terlaksana sesuai rencana dimana terjadi defisit keuangan karena biaya yang dikeluarkan untuk membiayai PBI sangat besar (lebih dari Rp 90  Triliun), sementara anggaran pemerintah untuk pengembangan rumah sakit dirasa masih rendah. Keterbatasan dana pemerintah ini juga berimbas pada persebaran rumah sakit dan perkembangan dokter spesialis dan Dokter Layanan Primer (DLP) yang tidak signifikan serta hanya berfokus di Jawa. Di sinilah pentingnya peran filantropi sebagai alternatif pembiayaan kesehatan untuk membantu pemerintah dalam mengatasi keterbatasan dana.

Menanggapi pemaparan sebelumnya, dr. Josephat Suwanta Sinarya, M.Kes selaku Ketua Kompartemen Bina Pembiayaan PERSI menyampaikan harapan agar ada usulan mengenai dana filantropi yang disumbangkan ke rumah sakit supaya dapat dikompensasikan ke dalam Surat Pemberitahuan (SPT) Pajak. Dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 76/PMK.03/2011 dinyatakan bahwa ada lima poin yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto, diantaranya adalah sumbangan penanggulangan bencana nasional, sumbangan penelitian dan pengembangan, sumbangan fasilitas pendidikan, sumbangan pembinaan olahraga, dan biaya pembangunan infrastruktur sosial. Namun, diantara kelima poin tersebut belum ada aturan yang jelas untuk sumbangan ke penyedia layanan kesehatan. Sehingga diharapkan muncul kebijakan yang dapat mendukung sumbangan ke rumah sakit khususnya rumah sakit non profit.

Biaya operasional rumah sakit yang berasal dari filantropi dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu donasi rutin dan donasi spontan. Donasi rutin dapat berasal Wajib Pajak (WP) pribadi atau lembaga hukum yang secara berkala memberikan sumbangan ke rumah sakit dan biasanya pihak - pihak tersebut menuntut atau mendapatkan ‘privelege’ berupa namanya yang diabadikan, spirit-nya disebarluaskan (misalnya pesan kasih sayang atau kejujuran), target donasinya harus dipenuhi dan ditaati, serta harus adanya review dan audit (terkait transparansi). Sebagai contoh, sumbangan yang termasuk Operasional Expenditure (OPEX) rumah sakit yang berasal dari suatu lembaga dan berpesan jika dana yang ia sumbangkan harus digunakan untuk pelayanan tertentu, maka pihak rumah sakit harus menggunakan dana tersebut sesuai keinginan donatur (tidak boleh digunakan untuk tujuan lain). Contoh OPEX antara lain pelayanan maternal neonatal, service excelent dan teamwork, leaflet dan sarana edukasi di RS, diklat, dsb. Sedangkan jenis sumbangan yang tergolong Capital Expenditure (CAPEX) bisa berasal dari pemerintah atau lembaga publik lain dan umumnya berupa alat medis, alat penunjang medis dan non medis, serta gedung dan  ruangan. Selain donasi rutin, ada donasi spontan yang nominal rupiahnya cenderung lebih kecil namun jumlah donaturnya sangat besar. Poin penting yang harus diutamakan dalam donasi spontan adalah rekening tujuan donasi yang mudah di akses, dilaporkan peruntukannya secara rutin dan transparan, serta harus ada audit yang dilakukan oleh akuntan publik.

Untuk memperkuat kerjasama antara  filantropis dengan  rumah sakit,  harus ada kesamaan visi, misi, dan nilai - nilai antara kedua pihak tersebut. Sedangkan, terkait akuntabilitasnya, harus ada pertemuan berkala minimal dua kali per tahun yang membahas besaran dan penggunaan dana serta target yang telah dicapai.  Selain itu, harus ada review keuangan oleh akuntan publik dan laporan keuangan ke dinas kesehatan, kantor pajak, dan kepala daerah setempat. Pihak manajemen rumah sakit harus patuh terhadap peraturan perundang - undangan untuk menghindari fraud dan masalah hukum ke depannya.

Filantropi di bidang kesehatan sudah dilakukan sejak beberapa abad yang lalu dan semakin berkembang hingga saat ini. Kekuatan utama filantropisme untuk mendukung  pendanaan di rumah sakit adalah jaringan sosial kelompok. Sepakat dengan pernyataan dr. Josephat Suwanta Sinarya, M.Kes., Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc. PhD. menambahkan bahwa terdapat dua kelompok filantropis potensial yang sebaiknya diperhatikan oleh rumah sakit, yaitu Kelompok A: Jumlah dana yang disumbangkan besar namun jumlah penyumbang kecil; dan Kelompok B: Jumlah dana yang disumbangkan kecil namun banyak orang yang menyumbang. Berdasarkan pernyataan pengamat filantropi kesehatan khususnya di rumah sakit dalam 20 tahun terakhir ditemukan fakta bahwa  sebagian besar rumah sakit keagamaan Islam lebih responsif dalam menggali dana filantropi, sedangkan kelompok rumah sakit Kristiani terlihat belum begitu responsif, sementara kelompok rumah sakit pemerintah masih skeptis.

Untuk menjaring dana bagi rumah sakit diperlukan teknik - teknik fundraising yang matang dan dilakukan oleh tenaga professional. Salah satunya dengan metode pendekatan  dengan lima langkah, antara  lain: identifikasi (mengenali sosok pendonor),  pengenalan (mencari  tujuan apa yang diinginkan pendonor), pengusahaan/multivation (bagaimana cara mendekati pendonor), pengumpulan/solicitation (bagaimana cara mengumpulkan pendonor), dan penghargaan/appreciation (Bagaimana cara membalas atau menghargai pendonor). Contoh kegiatan filantropi yang telah dilakukan oleh akademisi UGM adalah Konser Amal Peduli Kanker yang diprakarsai oleh Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK - KMK) UGM. Setelah fundraising dilaksanakan, harus ada evaluasi untuk menilai efektivitas pencarian dana.  Rasio pengeluaran (sumber daya yang digunakan untuk mencari dana) dibandingkan dengan sumbangan yang diterima sebaiknya tidak lebih dari 20%.

Ketua umum PERSI, dr. Kuntjoro Adi Purjanto, M.Kes menambahkan pada  era JKN seperti sekarang ini, banyak rumah sakit yang terkejut dengan perubahan pola terutama pembiayaan, dimana ada beberapa biaya tambahan yang tidak diperhitungkan dengan matang  sehingga dapat menimbulkan masalah bagi keuangan rumah sakit. Jika rumah sakit - rumah sakit di Indonesia masih menggalang dana filantropi dengan cara konvensional tanpa inovasi yang dikembangkan terus – menerus, maka mustahil akan ada kemajuan yang dicapai. Filantropi merupakan sumber dana potensial yang terlupakan saat ini, padahal jika ditilik dari sisi sejarahnya, sumber dana filantropi pernah menjadi penyokong utama kebutuhan dana rumah sakit.

Salah satu ide fundraising yang inovatif telah diterapkan di RSU Muhammadiyah Ponorogo. Pihak rumah sakit menggali dana dengan cara menawarkan kepada berbagai donatur untuk menyumbang sejumlah Rp 30 juta tiap kamar perawatan. Namun yang menarik, pihak rumah sakit juga menawarkan “Pahala Amal Jariyah” yaitu 2,5% dari hasil penjualan kamar tersebut akan disalurkan ke Lembaga Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazizmu) sebagai zakat atas nama donatur. Zakat tersebut selanjutnya akan digunakan untuk membiayai pasien yang tidak mampu dan tidak terdaftar di program JKN. Belum ada seminggu sejak program ini di-launching, 80% targetnya sudah terpenuhi.

Pada sesi kedua dilakukan pemaparan dan praktik penggunaan Software Development Crowdfunding secara teknis oleh dr. Sudi Indra Jaya selaku Koordinator Unit Publikasi dan Seminar PKMK FKKMK UGM. Sudi menyampaikan sejarah mengenai pelaksanaan filantropi dengan memanfaatkan teknologi digital di Indonesia dan juga beberapa negara lain. Kemudian tujuan dari pembuatan Software Development Crowdfunding ini, diantaranya untuk memudahkan penggalangan dana secara online dalam berbagai aspek pemenuhan pelayanan kesehatan di rumah sakit. Pihak rumah sakit juga dapat memberikan informasi tentang kebutuhan yang dapat disumbang, dan bagi calon pendonor akan lebih mudah memilih jenis sumbangan sesuai dengan minat dan kemampuannya, serta yang paling penting yaitu menciptakan transparansi agar pendonor dapat memantau hasil sumbangan. Strategi khusus yang disiapkan oleh tim PKMK FKKMK UGM untuk mempopulerkan crowdfunding di rumah sakit non profit yaitu dengan menonjolkan transparansi, menyusun daftar kebutuhan untuk dipublikasikan, melibatkan masyarakat secara langsung, mempermudah akses, dan memberikan pemahaman ke masyarakat mengenai penggalangan dana via website.

Salah satu rumah sakit yang telah menggunakan software development crowdfunding ini adalah RS PKU Muhammadiyah Temanggung. Software development crowdfunding sudah masuk dalam Program Manajemen Filantropi RS PKU Muhammadiyah Temanggung.  Min Adadiyah, SKM, MPH selaku perwakilan dari rumah sakit tersebut membagikan pengalamannya dalam Membangun Software Crowdfunding bersama tim peneliti dari PKMK FKKMK UGM dan tim IT dari kedua belah pihak. Berikut merupakan langkah - langkah yag dipaparkan oleh Min, diantaranya:

  1. berdiskusi dengan tim peneliti Filantropi PKMK UGM;
  2. melakukan diskusi internal tentang proyek - proyek rumah sakit yang memerlukan dana sumbangan;
  3. mengadakan diskusi teknis mengenai nomor rekening yang digunakan;
  4. membuat MoU dengan Payment Gateaway;
  5. mengelola Software Crowdfunding di website resmi RS;
  6. memantau dan mengembangkan Software Crowdfunding yang telah berjalan.

dr. Guardian Yoki Sanjaya, M.Health.Info. sebagai salah satu praktisi teknologi informasi kesehatan menanggapi pemaparan di sesi kedua dengan memberi pernyataan bahwa bukan hanya aspek teknis yang penting dalam membangun Software Crowdfunding, namun juga aspek non teknisnya (seperti dasar hukum dan pertanggungjawabannya kepada publik). Guardian juga mencontohkan platform - platform e-commerce yang juga sudah mulai melakukan crowdfunding. Dalam melaksanakan crowdfunding yang sumber dananya berasal dari publik, harus ada business process yang jelas (mekanisme untuk melakukan broadcast atau campaign, mekanisme pooling, penggunaan dan pelaporannya). Crowdfunding digital merupakan inovasi baru yang belum banyak regulasi dan mekanisme yang menaunginya. Oleh karena itu, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan, misalnya masalah equity (kesetaraan), dimana masyarakat yang literasi digitalnya baik saja yang dapat mengakses software ini. Sehingga, perlu ada sosialisasi yang giat untuk menambah kekayaan literasi digital masyarakat.

drg. H. Edi Sumarwanto, MM, MH.Kes sebagai perwakilan Kompartemen Hukum, Advokasi Dan Mediasi PERSI sekaligus Direktur Umum RS PKU Muhammadiyah Temanggung memberikan beberapa poin tambahan mengenai aspek legal dan etika crowdfunding digital. Dasar hukun crowdfunding digital merupakan sesuatu yang harus diupayakan dan dikaji terus - menerus. Hal ini penting agar kegiatan filantropi yang memiliki tujuan sosial yang sangat baik tidak berbenturan dengan regulasi - regulasi pemerintah. Setelah pemaparan dan diskusi pada sesi kedua selesai, acara dilanjutkan dengan pembukaan pendaftaran bagi rumah sakit - rumah sakit yang ingin bekerja sama dengan tim PKMK FKKMK UGM untuk menggunakan Software Crowdfunding Berbasis Website.

Di penghujung acara, Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD. memberikan pidato penutup berupa himbauan untuk rumah sakit - rumah sakit agar berani dan bersedia mencoba menggunakan metode crowdfunding ini yang nantinya juga akan dimonitor oleh tim PKMK FK - KMK UGM. Dengan banyaknya rumah sakit yang menerapkan metode ini maka akan lebih mudah untuk menilai apakah crowdfunding digital benar - benar efektif atau tidak. Poin terakhir yang tidak kalah penting adalah teknik fundraising yang utamanya tentang mempengaruhi orang lain agar tertarik untuk menyumbang, harus dilakukan secara profesional dan dikemas semenarik mungkin (harus ada konsultan atau kelompok yang ahli dalam hal fundraising di tiap rumah sakit).


Reporter: Aisyah Z. Lailiya Ainul

About Us

Pengembangan filantropis di sector kesehatan, memerlukan pendekatan dimana filantrofis dikaji secara ilmiah dan menjadi bagian system pembiayaan. Secara akademisi, konsep dan teori filantropis di sector kesehatan perlu dikaji, diteliti, dan disebarkan secara luas ke seluruh Indonesia

Connet With Us