Reportase Youth Circle Jakarta Vol. 04: "Funding in NGO, Capital to Do Good? Yes, please!"

img1Organisasi non profit mengandalkan berbagai sumber pendanaan untuk operasional dalam mencapai misi - misi organisasi mereka. Anggaran tahunan suatu organisasi non profit dapat mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Oleh karena itu, upaya penggalangan dana sangat penting bagi sustainabilitas dan keberhasilan organisasi non profit. Donor swasta khususnya korporasi besar merupakan salah satu sumber potensial untuk pendanaan organisasi non profit. Namun, saat ini banyak organisasi non profit yang mulai bergeser pada sejumlah besar donatur kecil dibandingkan sejumlah kecil donatur besar.

Dewasa ini, pertumbuhan jumlah organisasi - organisasi non profit sangat pesat. Ironisnya, rata - rata 9 dari 10 organisasi tersebut berhenti beroperasi setelah dua tahun. Salah satu alasan yang melatarbelakanginya adalah kesulitan dalam menentukan model pendanaan untuk kegiatan organisasi mereka. Untuk menjawab tantangan tersebut, Youth Circle Jakarta Vol. 04 mengadakan talkshow bertema "Funding in NGO, Capital to Do Good? Yes, please!" yang diadakan pada 29 Juni 2018 di Jakarta Selatan. Acara ini dihadiri oleh narasumber - narasumber ahli dibidang pendanaan organisasi non profit, diantaranya adalah:

  1. Andrew Ferdinand Hallalu, Public Affair And Community Manager Coca Cola Foundation Indonesia/PRAISE
  2. Isra Ruddin, Executive Director Yayasan Sahabat Pulau Indonesia/SDSN Youth Coordinator dan United in Diversity Foundation
  3. Aghnia Barat, Managing Director Social Innovation Acceleration Program (SIAP)

Dalam acara ini, para pembicara membagikan ilmu secara langsung mengenai bagaimana mencari tipe pendanaan yang tepat untuk organisasi non profit, misalnya melalui model kewirausahaan sosial, aplikasi grant, corporate social responsibility, dan crowdfunding atau donasi. Selain itu, para peserta juga mendapat keuntungan lebih yaitu bisa langsung bertemu dan menambah jejaring (network) dengan praktisi - praktisi tersebut.

Acara diawali dengan pembukaan oleh salah satu e-guides @america yaitu Jasmin McKell, dilanjutkan dengan perkenalan Youth Corps Indonesia (YCI), paparan pembicara, dan talkshow yang moderatori oleh Andreas Pandu Wirawan (manager of partnership YCI). Pada sesi pertama Jonathan Davy, mewakili YCI memaparkan lebih jauh mengenai YCI. Youth Corps Indonesia adalah organisasi non profit yang berfokus untuk mengoptimalkan partisipasi pemuda dalam menghasilkan perubahan positif di Indonesia. YCI menyediakan platform pengembangan kapasitas bagi organisasi kepemudaan di Indonesia dengan menghubungkan mereka kepada pakar melalui program inkubasi dan pendampingan.

img2

Masuk ke acara inti, paparan pertama disampaikan oleh Isra Uddin yang menjelaskan inti kegiatan dari Sahabat Pulau Indonesia. Sahabat Pulau adalah organisasi berbasis aksi kepemudaan yang berfokus pada penyelesaian masalah pendidikan, melibatkan pemuda dan anak - anak di seluruh Indonesia, serta melaksanakan pemberdayaan berbasis socio entrepreneurship untuk wanita pesisir dan pemberdayaan yang berkelanjutan. Sahabat Pulau pada awalnya hanyalah komunitas sosial yang diciptakan oleh para pemuda Indonesia yang pernah belajar di luar negeri. Seiring berjalannya waktu, organisasi ini beralih menjadi yayasan setelah melalui diskusi dan pemikiran panjang. Hal paling utama dalam mendirikan suatu yayasan sosial adalah niat baik disertai visi dan misi yang jelas sehingga bisa membawa organisasi ke arah yang tepat. Strategi pertama yang dilakukan oleh Sahabat Pulau yaitu memperkenalkan organisasinya ke publik dengan sistem marketing dan branding melalui media massa dan digital secara masif. Untuk mendapatkan funding yang diinginkan, maka suatu organisasi non profit harus menentukan apa intensi yang diharapkan. Menurut Isra, performance disertai komunikasi yang baik akan menciptakan reputasi organisasi yang luar biasa. Saat ini Sahabat Pulau sudah mulai berkembang, tidak hanya bergantung pada grants tetapi juga menciptakan bisnis yang dapat membantu organisasinya agar bisa sustain yaitu melalui “desapreneur”.

Paparan selanjutnya dari sisi granter oleh Andrew dengan rema “refresh”. Sebelum berbicara lebih jauh mengenai pendanaan, Andrew memberi gambaran terkait Coca Cola Foundation terlebih dahulu. Coca Cola Foundation Indonesia (CCFI) adalah organisasi non profit yang didirikan pada Agustus 2000 oleh PT. Coca Cola Indonesia dan PT Coca Cola Bottling Indonesia dengan mengusung visi meningkatkan pendidikan dan kualitas sumber daya masyarakat Indonesia, kesejahteraan sosial, dan pengembangan masyarakat. Yayasan ini menyelenggarakan program - program jangka panjang sehingga dampaknya lebih efektif, sejalan dengan sustainability framework-nya “Me, We, World”. Saat ini CCFI fokus pada 3 hal besar yaitu water, human capital development, dan waste karena dianggap sangat berhubungan dengan bidang bisnis Coca Cola. Kesimpulan yang dapat diambil adalah jika suatu organisasi non profit ingin mendapat grant dari CCFI, hendaknya mengangkat isu dan impact terkait fokus dan framework CCFI.

Berdasarkan penjelasan Andrew, suatu orgasasi non profit harus bisa menemukan strategic intersection antara social needs, business opportunity, dan, company assets and expertise. Hal pertama yang dilihat oleh korporasi saat menerima proposal permohonan sponsorship/grants adalah impact yang diciptakan oleh kegiatan yang diusulkan. Namun, mayoritas organisasi non profit lebih menitikberatkan kepada “how to” atau bagaimana kegiatan tersebut akan dilakukan, misalnya pembangunan 30 toilet, pelatihan merangkai Bunga pada ibu - ibu, dan sebagainya. Selain itu, sustainability program juga dinilai sebagai isu yang tidak kalah penting, dimana beberapa tahun setelah pemberian grant dan setelah grant tersebut berhenti, diharapkan program tersebut tetap berjalan. Capability issue juga merupakan hal penting bagi organisasi non profit dalam menjaring dana dari korporasi. Kesamaan shared value dianggap sangat krusial karena bisa menyatukan tujuan korporasi dan organisasi non profit bersama - sama tanpa gap.

Saat ini ada organisasi yang inovatif bergerak di bidang nonprofit bernama SIAP atau Social Innovation Acceleration Program. SIAP adalah sebuah program edukasi yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas founder social enterprise melalui empat program utama yaitu Social Enterprise Development (SED) Bootcamps, Project Matchmaking, Product Development Week, dan Demo Day. Para founder yang bergabung dalam SIAP berkesempatan mendapat mentorship, networking, dan akses pendanaan yang tepat. Program SIAP dilakukan dengan inkubasi social enterprise selama 3 bulan dengan prototipe kerja yang ada dan membantu mereka untuk lebih memvalidasi ide mereka. Berikut program - programnya secara lebih detail:

  1. Bimbingan
    SIAP berupaya menciptakan ekosistem yang menumbuhkan dukungan dan bimbingan bagi wirausahawan sosial baru.
  2. Penilaian Dampak
    SIAP berupaya mengoptimalkan model perusahaan sosial peserta dengan menyediakan alat untuk menilai value dan impact sosial yang diciptakan oleh bisnis tersebut.
  3. Sumber Daya Pengetahuan

SIAP menawarkan akses seluas mungkin ke berbagai sumber daya, termasuk materi pembelajaran, jaringan, dan peluang pendanaan.

Dengan mengikuti program Social Enterprise Development Bootcamp, para founder dapat belajar berbagai kurikulum seperti Change Theory, Product Validation Method, Growth Hacking, Impact Assessment & Metrics, hingga Sustainability Strategy. Setelah menyelesaikan program tersebut, terdapat advancement program untuk pengembangan produk dan sesi mentoring personal agar para founder bisa mendapatkan feedback mendalam mengenai social enterprise-nya dari para mentor.

Menurut Aghnia, tantangan utama yang dihadapi organisasi non profit saat awal berdirinya adalah:

  1. Mendapatkan modal untuk memulai dan mempertahankan bisnis
  2. Mendapatkan dana hibah dikarenakan persaingan antar pencari hibah yang ketat
  3. Arus keuangan yang buruk, mungkin dikarenakan manajemen keuangan internal yang kurang.

Berikut merupakan solusi yang diberikan oleh Aghnia untuk menjawab tantangan - tantangan tersebut:

  1. Menentukan di tahapan mana organisasi non-profit berada, misal apakah masih dalam penyusunan visi, start-up, growth, atau sudah established.
  2. Membuat rincian mengenai kebutuhan bisnis dari organisasi non profit, misal jika ingin membuat kegiatan dan membutuhkan dana seian ratus juta, maka organisasi tersebut bisa memperkirakan untuk mengajukan pendanaan ke granter yang mungkin berfokus pada bidang yang sama.
  3. Mengidentifikasi funders, donatur, dan investor yang potensial.

Untuk mendapatkan dana, organisasi-organisasi non-profit dapat melakukan tipe-tipe pencarian dana, seperti Bootstrap, Crowdfund, Investment, Social business, Grant/donation, dan Corporate Social Responsibility (CSR). Pengetahuan baru bagi organisasi non-profit dalam memaksimalkan organisasinya adalah “Social Lean Canvas” dengan penjelasan detail, sebagai berikut:

  1. Menentukan tujuan organisasi
  2. Mendefinisikan impact yang ingin diciptakan
  3. Menentukan segmen pasar yang dituju
  4. Menemukan permasalahan-permasalahan yang mungkin ditemui
  5. Membuat perencanaan terkait unique value
  6. Menemukan solusi dalam menghadapi permasalahan
  7. Memperluas channel atau networking
  8. Menciptakan revenue
  9. Cost structure
  10. Key matrics
  11. Unfair advantage

Dalam sesi tanya jawab, Isra menyampaikan bahwa ia akhirnya memutuskan keluar dari pekerjaanya dan berkomitmen penuh terhadap organisasi Sahabat Pulau bersama rekan-rekannya yang lain selama 2 tahun. Dari saat itulah Sahabat Pulau mulai berkembang pesat. Setuju dengan pernyataan Aghnia, ia berpesan bahwa organisasi non profit harus membentuk visi dan misi yang benar sesuai unique value-nya, dengan poin tersebut maka funders akan melihat arah organisasi yang jelas dan tertarik memberikan dana. Isra menambahkan suatu organisasi non profit harus fleksibel, dalam artian bisa menyesuaikan program- programnya dengan kebutuhan pemberi dana tanpa keluar dari unique value organisasinya.

Acara ditutup dengan saran dari tiap pembicara terkait tindak lanjut apa yang harus dilakukan oleh organisasi dalam waktu dekat ini. Andrew berharap para pengelola organisasi non profit bisa menemukan “Faktor X” masing-masing agar memiliki nilai lebih yang unik dibandingkan yang lain. Organisasi juga harus mampu mereplikasi program yang diusulkan kepada pemberi dana agar program tersebut siap dikembangkan lebih lanjut. Kemudian Isra  berpesan agar para pengelola organisasi non profit merefleksikan diri dan menemukan arah organisasi (visi) dan langkah apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut (misi). Sedangkan, Aghnia menyampaikan bagi organisasi baru yang belum mulai, maka ia harus menemukan alasan pendirian organisasinya (untuk apa organisasi tersebut didirikan), untuk memperkuat akar organisasinya. Setelah itu, organisasi harus mendefinisikan impact yang ingin diciptakan.
*(Aisyah Z. Lailiya Ainul - (FK – KMK UGM))

About Us

Pengembangan filantropis di sector kesehatan, memerlukan pendekatan dimana filantrofis dikaji secara ilmiah dan menjadi bagian system pembiayaan. Secara akademisi, konsep dan teori filantropis di sector kesehatan perlu dikaji, diteliti, dan disebarkan secara luas ke seluruh Indonesia

Connet With Us