26 Tahun Dompet Dhuafa Kukuhkan Trilogi Amaliah

JAKARTA -- Lembaga filantropi Dompet Dhuafa (DD) genap berusia 26 tahun pada 2 Juli 2019. Dalam usia yang cukup matang tersebut, DD meneguhkan komitmennya untuk menegakkan Keindonesiaan, Kemoderenan, dan Keislaman sebagai trilogi pilar utama dalam melaksanakan amaliahnya.

Hal tersebut diungkapkan oleh inisiator sekaligus pendiri Dompet Dhuafa, Parni Hadi, dalam acara tasyakuran Milad ke-26 DD di gedung Kampus Umar Usman, Jakarta, Selasa (2/7) lalu. Pada acara tersebut juga berlangsung serah terima jabatan ketua pengurus Yayasan Dompet Dhuafa Republika dari ketua lama Ismail Agus Said kepada Nasyith Majidi sebagai ketua baru.

“Saya ingin Dompet Dhuafa itu Indonesia, moderen, dan islami. Jati diri DD adalah lembaga filantropi Islam,” ujar Parni Hadi yang juga merupakan ketua dewan Pembina DD.

Menurut Parni Hadi, Islam yang disebutkannya tersebut boleh ditafsirkan sebagai ikhlas, tulus, atau pasrah. DD juga disebutnya harus bisa memberikan warna dalam pembangunan Indonesia. Sedangkan moderen yang dimaksudkannya adalah insan DD harus bersikap moderat. “Jadi ini adalah trilogi DD yang harus dijaga sebagai lembaga filantropi dan kemanusiaan,” kata Parni.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Dompet Dhuafa, Nasyit Majidi, kemudian menguraikan makna tiga pilar yang disampaikan Parni Hadi. Menurut Nasyith, keislaman di sini bisa bermakna ikhlas. Itu berarti dalam melakukan amalan atau kegiatannya insan DD menjalankannya dengan bersih hati atau tulus hati, selain jujur dan amanah.

“Keikhlasan harus menjadi landasan kerja insan DD. Hanya dengan keikhlasan kerja nyata DD akan memberi kontribusi nyata bagi tugas-tugas kemanusiaan,” ujar Nasyith Majidi seperti dalam siaran persnya.

Terjemah keikhlasan tersebut, lanjutnya, mencontoh sifat-sifat dan tugas kenabian (prophetic assignment) yang dicontohkan para rasul. Setidaknya ada empat karakter kenabian yang perlu dijadikan pegangan:

1. Honesty (sidiq, bisa dipercaya). Modal terbesar DD adalah kepercayaan publik atas amanah yang diberikan tidak diselewengkan. Dengan demikian transparansi dan akuntabilitas menjadi menjadi keharusan.

2. Trustworthy (amanah, bisa dipercaya). Oleh karena DD tak lebih hanya sebagai "makelar kebaikan”, maka amanah yang diberikan oleh siapapun harus tersampaikan pada yang dituju. Hanya dengan itu niatan kebaikan yang diberikan oleh donatur maupun DD sendiri bisa tersampaikan.

3. Well Communication (tabligh, mampu menyampaikan pesan). Segala sesuatu yang menjadi amanah harus mampu disampaikan, baik bagi pemberi maupun penerimannya.

4. Smart (fathonah, cerdas). Insan DD harus memiliki kecerdasan, baik intelektual, emosional, maupun spiritual. Dengan demikian DD tdk boleh tertunggal dari kemajuan jamannya, sekaligus tetap dalam landasan kekuatan rasa dan spiritual.

Dalam hal kemoderenan DD juga harus tampil moderen dan moderat. Artinya DD senantiasa harus mengikuti perkembangan zaman. Ketidakmampuan mengikuti trend zaman, maka DD akan ditinggalkan oleh konstituennya. Bukan karena hilang kepercayaan, tetapi karena tidak pas dengan zaman yang berlaku.

“Dengan demikian kemampuan beradaptasi dengan zaman senantiasa menjadi concern yang terus diupayakan, dalam koridor yang tidal bertabrakan dengan nilai-niali kemanusiaan yang diperjuangkan,” tutur Nasyith.

Berkaitan dengan keindonesiaan, bagi DD berkontribusi menebar kebaikan untuk Indonesia adalah suatu keharusan. DD mesti menjadi salah satu ikon kebaikan yang dimiliki Indonesia. Dengan pilihan bekerja dalam jalur independen, non partisan, DD mengisi ruang kosong kegiatan kemanusiaan melalui jalur zakat, infaq, sedekah dan wakaf.

Dengan independensi dan non partisan, DD menjalin kerja sama dengan banyak pihak sepanjang untuk Indonesia yang lebih baik dan tidak bertabrakan dengan nilai-nilai yang diperjuangkan tersebut.

Meski sudah semakin besar dan moderen, orientasi program DD tetap menjalar di masyarakat bawah atau akar rumput, khususnya kaum dhuafa. Contohnya, DD mengembangkan kawasan pertanian terpadu seluas 10 hektare di Desa Cirangkong, Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Pengelolaan lahan di Cirangkong menerapkan model integrated farming (pertanian dan peternakan) dan pola pertanian dalam satu siklus biologi (integrated bio-cycle farming).

Dengan begitu, tidak ada limbah yang terbuang. Limbah pertanian dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan kompos. Kotoran ternak pun dapat digunakan untuk pupuk tanaman.

Program ini merupakan bukti nyata peran Dompet Dhuafa dalam memberdayakan dan mengangkat potensi lokal daerah. Para pendukung dan pegiat Indonesia Berdaya telah lama bercita-cita untuk memiliki lahan produktif untuk memberdayakan masyarakat di sekitar lokasi tersebut.

Dalam jangka panjang program pertanian terpadu ini ditujukan untuk menjadi model dari perwujudan kedaulatan pangan. Terakhir, sejak 2 Juli 2019, bertepatan dengan Milad ke-26 DD, dimulai pembangunan warung Bude (Badan Usaha Desa) Dompet Dhuafa di Bumi Maringi Peni Pujon (BMP), Malang, Jatim.

Sumber: https://khazanah.republika.co.id/berita/pu2a2o423/26-tahun-dompet-dhuafa-kukuhkan-trilogi-amaliah

About Us

Pengembangan filantropis di sector kesehatan, memerlukan pendekatan dimana filantrofis dikaji secara ilmiah dan menjadi bagian system pembiayaan. Secara akademisi, konsep dan teori filantropis di sector kesehatan perlu dikaji, diteliti, dan disebarkan secara luas ke seluruh Indonesia

Connet With Us