Membangun Dukungan bagi Masa Depan Kesehatan Perempuan

Membangun Dukungan bagi Masa Depan Kesehatan Perempuan

Berita

Sejak tahun 2000, angka kematian ibu telah menurun hampir 40 persen. Anak perempuan kini memiliki peluang lebih besar untuk menyelesaikan sekolah dibandingkan masa sebelumnya dalam sejarah. Dan femtech (teknologi yang dirancang untuk kesehatan dan kesejahteraan perempuan) menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat dalam inovasi mutakhir (frontier innovation), dengan pasar global yang diproyeksikan mencapai 97 miliar dolar Amerika Serikat (AS) pada tahun 2030. Kemajuan ini nyata. Namun, perkembangannya tidak merata, dan kesenjangan yang tersisa masih sangat besar. Secara global, dari setiap 100.000 kelahiran yang berhasil, terdapat 197 ibu yang meninggal akibat komplikasi kehamilan. Selain itu, terdapat selisih sekitar 244 juta lebih banyak laki-laki dibandingkan perempuan yang memiliki akses internet. Kesenjangan digital yang masif ini menyebabkan kaum perempuan tersisih dan kesulitan untuk berpartisipasi dalam ekosistem ekonomi digital. Lebih dari separuh anak perempuan dan perempuan muda juga pernah mengalami pelecehan daring (online harassment).

Pendanaan untuk mendukung kesehatan dan kesejahteraan anak perempuan dan perempuan yang sebenarnya juga dapat meningkatkan kesejahteraan anak-anak dan masyarakat secara luas, masih jauh dari kata cukup. Pilihlah metrik apa saja, jawabannya akan tetap sama. Secara global, tim pendiri yang seluruhnya perempuan (female-only founding teams) hanya memperoleh 2,3 persen dari total modal ventura pada tahun 2024. Di Asia Tenggara, angka tersebut merosot menjadi 2,1 persen. Di seluruh dunia, program kesetaraan gender menerima kurang dari 1 persen dari total bantuan pembangunan resmi.

Di Amerika Serikat, pasar yang rekam jejaknya dipantau paling komprehensif, organisasi yang melindungi perempuan dan anak perempuan hanya menerima 1,9 persen dari total pemberian filantropi. Pangsa ini nyaris tidak bergeser dalam satu dekade terakhir dan para peneliti mencatat bahwa angkanya kemungkinan jauh lebih rendah secara global. Laporan Women’s Health Investment Outlook 2026 dari World Economic Forum menemukan bahwa kesehatan perempuan hanya menyerap 6 persen dari investasi layanan kesehatan swasta. Saluran yang berbeda, geografi yang berbeda, tetapi polanya tetap sama.

Kita bisa mengubah ini. Itulah mengapa kami bermitra dengan Kantor Inovasi UNICEF (UNICEF Office of Innovation) dan mitra-mitra lain yang sevisi untuk meluncurkan Femtech Ventures: sebuah platform investasi katalitis lima tahun yang mendukung solusi teknologi mutakhir rancangan lokal bagi anak perempuan, perempuan, dan anak-anak di seluruh Asia dan Afrika demi meningkatkan kesehatan, perlindungan, serta peluang ekonomi mereka.

Dengan mengidentifikasi dan mendukung para pendiri (founders) yang membangun solusi terukur (scalable) untuk anak perempuan, perempuan, dan anak-anak di negara-negara berkembang, peran Temasek Foundation adalah mengarahkan pendanaan katalitis ke area-area yang belum terpenuhi oleh sektor publik dan swasta, dalam hal ini, kelangkaan pendanaan tahap awal (early-stage funding) bagi para inovator femtech di Asia Tenggara dan pasar berkembang lainnya.

UNICEF membawa rekam jejak panjang dalam berinvestasi pada teknologi mutakhir dan infrastruktur program untuk membimbing para pendiri serta menghubungkan mereka dengan sumber daya untuk implementasi. Bersama-sama, kami berkomitmen memanfaatkan filantropi untuk mendorong investasi yang lebih cerdas dan berdampak pada kesehatan perempuan.

Panggilan pendaftaran tahunan pertama Femtech Ventures menerima lebih dari 1.100 pengajuan dari para wirausahawan di 85 negara. Hal ini membuktikan luas dan dalamnya inovasi femtech dari pasar berkembang yang dipimpin oleh wirausahawan lokal. Di Indonesia, ada proyek bernama Bahasa Ibu yang merekrut kaum perempuan untuk merekam dan memeriksa suara dalam 700 bahasa daerah. Rekaman ini dipakai untuk melatih teknologi komputer (AI) supaya bisa mengerti bahasa daerah, sekaligus memberikan penghasilan tambahan bagi para perempuan tersebut. Langkah ini menciptakan lapangan kerja sekaligus mengurangi bias dalam sistem kecerdasan buatan (AI) yang sering kali mengecualikan suara kelompok minoritas, jika suatu bahasa dikecualikan dari data pelatihan AI, para penuturnya secara efektif akan tersisih dari sistem yang dibangun di sekitar mereka. Bahasa Ibu adalah contoh bagaimana satu solusi dapat mengatasi beberapa kesenjangan sekaligus: meningkatkan inklusivitas AI sambil menciptakan peluang ekonomi bagi perempuan.

Bahasa Ibu adalah salah satu dari 10 perusahaan rintisan (startup) pasar berkembang milik Femtech Ventures, di mana setengahnya berada di Asia. Setiap perusahaan menerima pendanaan tanpa imbalan ekuitas (equity-free funding) hingga US$100,000 serta bantuan teknis untuk menguji, memperkuat, dan mengembangkan solusi tahap awal mereka yang pionir menjadi model yang berkelanjutan dan layak investasi (investable models).

Semua startup dalam portofolio ini memanfaatkan teknologi mutakhir seperti AI, blockchain, dan sains data untuk mempercepat hasil, dan lebih dari separuhnya dipimpin oleh perempuan. Di Asia, portofolio tersebut meliputi:

  • FemHealth Data Collaborative: Menggunakan AI dan machine learning untuk mengonsolidasikan serta menganalisis kumpulan data yang terfragmentasi tentang kesehatan anak perempuan dan perempuan, guna menghasilkan wawasan yang dapat ditindaklanjuti untuk meningkatkan alokasi sumber daya dan hasil kesehatan.
  • Nurtura: Asisten klinis (clinical co-pilot) berbasis AI dan Internet of Things (IoT) untuk fasilitas bersalin yang memantau parameter ibu dan janin guna mengurangi risiko persalinan.
  • Uli: Memantau linimasa media sosial pengguna untuk mendeteksi pelecehan daring secara real-time dalam berbagai bahasa dan menghubungkan mereka ke jaringan dukungan.
  • VivaMama: Platform perawatan pascamelahirkan berbasis AI yang menawarkan dukungan terstruktur dan berbasis bukti bagi para ibu baru di bulan-bulan kritis setelah melahirkan.

Para wirausahawan lokal di balik solusi-solusi ini tidak hanya memahami masalah yang mereka selesaikan, tetapi juga membawa pengetahuan langsung mengenai komunitas yang mereka layani dan risiko yang dihadapi oleh komunitas tersebut.

Data kesehatan perempuan dan geolokasi pengguna termasuk dalam jenis data yang paling sensitif dan sayangnya kian dikomersialkan. Industri teknologi terus menunjukkan celah dalam desain persetujuan (consent design), perlindungan data, dan sistem pengaman pengguna yang membuat data sensitif menjadi rentan. Ini bukanlah masalah pinggiran, melainkan risiko struktural, dan filantropi memiliki kewajiban untuk menghadapinya.

Selengkapnya https://www.alliancemagazine.org/blog/local-founders-are-building-the-future-of-womens-health-philanthropy-can-support-their-aspirations-and-help-them-scale/