Samarinda – Berawal dari keresahan melihat banyak pasien kanker dan keluarga yang beristirahat di masjid sekitar rumah sakit, Yayasan Rumah Singgah Samarinda akhirnya mendirikan rumah singgah bagi pasien kanker pada 2017 di Jalan Dr Soewondo No 8, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Samarinda Ulu. Sekretaris Yayasan Rumah Singgah, Aditya Lesmana, mengatakan gagasan itu muncul karena para relawan kerap melihat pasien dari luar daerah kesulitan mencari tempat tinggal selama menjalani pengobatan di Samarinda.
Awalnya karena kami sering lihat pasien-pasien di masjid sekitar rumah sakit. Dari situ muncul pikiran, kayaknya harus ada rumah singgah, paling enggak untuk pasien kanker dulu,” ujarnya, Jumat (29/5/2026).
Menurut Aditya, rumah singgah tersebut dibangun secara gotong royong bersama komunitas, relawan, lembaga hingga para donatur yang memiliki kepedulian terhadap pasien kanker. Ia menyebut hingga kini seluruh rumah singgah yang dikelola yayasan masih berstatus kontrak dan dijalankan secara mandiri tanpa kepemilikan aset pribadi.
“Semua operasional gotong royong. Ada yang bantu tenaga, ilmu, makanan, sampai kebutuhan sehari-hari pasien,” katanya.
Saat ini terdapat sekitar 15 pasien dan pendamping yang tinggal di rumah singgah tersebut. Sebagian besar pasien berasal dari luar Kota Samarinda, bahkan dari berbagai daerah di Indonesia Timur seperti Berau, Tarakan hingga Kendari. Menurutnya, pasien kanker membutuhkan waktu pengobatan yang panjang sehingga rumah singgah menjadi solusi agar mereka tidak perlu bolak-balik dari daerah asal menuju rumah sakit.
“Pengobatan kanker itu bukan hitungan hari. Bisa minggu, bulan bahkan bertahun-tahun. Makanya rumah singgah ini sangat dibutuhkan,” jelasnya.
Selain menyediakan tempat tinggal sementara, rumah singgah juga rutin mengadakan berbagai kegiatan pendampingan seperti edukasi kesehatan, pemeriksaan gratis hingga dukungan psikologis bagi pasien.
Setiap akhir pekan, relawan menghadirkan dokter onkologi, psikolog maupun ahli gizi untuk memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga. Di rumah singgah tersebut juga tersedia berbagai fasilitas penunjang seperti kursi roda, bahan makanan pokok hingga pendampingan transportasi menuju rumah sakit bagi pasien dengan kondisi tertentu.
Aditya mengaku pihaknya beberapa kali mengalami kesulitan biaya operasional, termasuk saat membayar kontrakan rumah singgah. Namun dukungan para donatur dan masyarakat membuat rumah singgah tetap bertahan hingga sekarang.
“Pasti pernah merasa kekurangan, tapi selalu ada jalan. Mungkin karena doa-doa para donatur dan teman-teman pasien juga,” ucapnya.
Untuk masyarakat yang ingin menggunakan fasilitas rumah singgah, cukup membawa BPJS Kesehatan kelas III dan kartu identitas diri. Pasien yang benar-benar membutuhkan bantuan akan diterima tanpa proses yang berbelit.
“Prinsip kami enggak boleh nolak orang. Yang penting mereka enggak kehujanan, ada tempat tinggal dan bisa makan,” tegasnya.
Sumber: https://jurnalborneo.com/rumah-singgah-kanker-samarinda-lahir-dari-keresahan-relawan/