Indonesia menghadapi tantangan kemanusiaan yang semakin kompleks seiring munculnya rangkaian bencana yang terjadi secara simultan dan berulang. Kondisi ini meningkatkan risiko disaster fatigue atau kelelahan bencana, yang dapat berdampak pada menurunnya empati publik, melemahnya dukungan donasi, serta terkurasnya sumber daya organisasi kemanusiaan. Situasi tersebut menunjukkan bahwa pola respons filantropi yang reaktif dan berorientasi pada satu kejadian bencana perlu bertransformasi menuju pendekatan yang lebih berkelanjutan dan adaptif.
Dalam konteks tersebut, Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) mendorong penguatan strategi filantropi melalui pendekatan portofolio krisis, pengembangan recurring giving, serta peningkatan kapasitas organisasi dan komunitas lokal. Salah satu pendekatan yang ditawarkan adalah Model Respon Adaptif untuk Bencana Siklis dan Kompleks (MARCCD), yang memandang penanganan bencana sebagai proses berkelanjutan melalui tahap antisipasi, dampak, adaptasi, dan pemulihan. Pendekatan ini juga diperkuat dengan pengelolaan pooled fund yang transparan dan fleksibel agar sumber daya filantropi dapat disalurkan secara lebih responsif sesuai kebutuhan dan kapasitas lokal.