Inovasi Pembiayaan Bedah Berkelanjutan: Memetakan Potensi Dana Filantropi di Negara Berpenghasilan Rendah-Menengah

Inovasi Pembiayaan Bedah Berkelanjutan: Memetakan Potensi Dana Filantropi di Negara Berpenghasilan Rendah-Menengah

Artikel Mingguan

Pelayanan bedah merupakan layanan penting dalam sistem kesehatan yang mencakup sekitar 18 hingga 30 persen dari total beban penyakit secara global. Sayangnya, akses terhadap layanan bedah, obstetri, dan anestesi yang aman serta terjangkau masih sangat terbatas di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah (LMICs). Jika masalah ini dibiarkan, kasus-kasus bedah yang tidak tertangani di negara-negara tersebut diproyeksikan bisa memicu kerugian ekonomi global yang sangat besar, mencapai 12,3 triliun dolar Amerika Serikat (AS) pada tahun 2030. Padahal, komitmen global melalui berbagai resolusi dunia terus mendorong agar layanan bedah esensial ini diintegrasikan ke dalam sistem kesehatan nasional, tetapi pada kenyataannya, sektor ini tetap saja kekurangan dana. 

Di sinilah peran penting sektor filantropi masuk untuk mengisi kesenjangan pembiayaan yang krusial tersebut. Sepanjang tahun 2014 hingga 2022, tercatat ada 10 organisasi filantropi besar yang secara kolektif menggelontorkan dana hingga 124,8 juta dolar khusus untuk mendukung pelayanan bedah di LMICs, dengan area fokus utama pada bedah anak serta penguatan riset di wilayah Asia Timur, Pasifik, dan Afrika Sub-Sahara. Keunggulan utama dari bantuan filantropi ini terletak pada sifatnya yang lebih fleksibel dan berani mengambil risiko dibanding bantuan resmi antar-pemerintah. Mulai dari hibah yayasan besar, program sosial perusahaan, hingga gerakan berbasis digital seperti urun dana (crowdfunding) dan remitansi dari diaspora, semuanya menjadi mesin penggerak alternatif yang sangat potensial untuk membangun sistem pelayanan bedah yang mandiri dan berkelanjutan.

Selengkapnya