Philanthropy is a Critical Tool in Addressing the Youth Mental Health Crisis

Philanthropy is a Critical Tool in Addressing the Youth Mental Health Crisis

Berita

Saat ini, kaum muda di Amerika Serikat (AS) menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan berdampak buruk terhadap kesehatan mental mereka. Meskipun satu dari tiga orang dewasa muda (18-25 tahun) dan satu dari empat remaja mengalami gangguan kesehatan mental setiap tahunnya, pelayanan kesehatan mental AS belum memadai untuk mendukung pengobatan mereka. Lebih dari 60% remaja dengan depresi berat tidak memperoleh pengobatan karena sejumlah faktor: keterjangkauan dan akses ke layanan kesehatan (atau penyedia yang menerimanya), kurangnya perawatan yang kompeten secara budaya, dan kurangnya ketersediaan terapis sesuai kebutuhan dan permintaan.

Kaum muda AS tidak dapat mengupayakan suatu perubahan besar sebelum mereka memperoleh perawatan dan dukungan yang dibutuhkan dan pantas mereka dapatkan saat ini. The Jed Foundation (JED) mengamati bagaimana filantropis dapat mempercepat dan meningkatkan efektivitas penanganan masalah tersebut untuk melindungi kesehatan mental dan mencegah perilaku negatif kaum muda bangsa AS. Sumbangan dari filantropi memungkinkan terlaksananya upaya untuk mendukung, menjangkau, dan memastikan perawatan bagi kaum muda di mana pun dan kapan pun mereka membutuhkannya.

Ketika filantropis mendukung kesehatan mental secara komprehensif melalui intitusi atau tempat berkumpulnya kaum muda (sekolah, organisasi pemuda, dan komunitas), sebenarnya mereka juga turut membangun budaya kepedulian yang komprehensif dan berkelanjutan dimana kaum muda didukung, diperhatikan, dan diberi kesempatan untuk mengembangkan keterampilan hidup, serta memperoleh akses perawatan yang memadai. JED menemukan bahwa sistem tersebut tidak hanya penting, tetapi juga efektif dalam mencegah perilaku negatif bagi remaja dan dewasa muda. Sistem pengaman kesehatan mental tersebut penting khususnya bagi komunitas yang kekurangan sumber daya dan mengalami keterbatasan dalam mengakses layanan kesehatan yang berkualitas.

Pertimbangan:

  • Hampir empat dari 10 orang AS (149 juta orang) tinggal di daerah yang kekurangan tenaga kesehatan mental professional.
  • Sebanyak 31 juta orang AS tidak memiliki asuransi kesehatan dan banyak orang yang memiliki asuransi namun sering tidak dapat memperoleh bantuan karena spesialis perawatan berada di luar jangkauan atau tidak menerima asuransi.
  • Menemukan penyedia layanan kesehatan mental dengan latar belakang budaya yang relevan merupakan tantangan tambahan, karena hampir 85% psikolog di negara ini berkulit putih.

Filantropi diperlukan dalam strategi jangka pendek dan jangka panjang untuk memperkuat sistem pelayanan kesehatan mental di AS. Tetapi sebelum memberikan hibah kepada organisasi nonprofit, penting bagi filantropis untuk memperhatikan hal berikut:

  • Memastikan inisiatif yang mereka lakukan selaras dengan urgensi tujuan kesehatan mental masyarakat
  • Memiliki rencana dengan tujuan yang terukur dan peluang keberhasilan yang rasional
  • Melakukan kolaborasi yang menumbuhkan komunikasi, koordinasi, dan sinergi
  • Memberikan insentif untuk membantu menyelaraskan semua pemangku kepentingan terkait peningkatan akses yang terhadap pengobatan

Salah satu cara agar filantropis dapat memaksimalkan dampak kontribusi mereka adalah dengan mendukung organisasi melalui koalisi atau pendekatan kolaboratif serupa. Ketika berbagai organisasi menyatukan pengetahuan, bakat, dan sumber daya mereka, mereka dapat mencapai tujuan bersama lebih cepat. JED memperoleh hasil yang luar biasa melalui pendekatan ini: Tahun lalu, kami bergabung dengan Path Forward for Mental Health and Substance Use, sebuah kelompok multi-stakeholder yang bertujuan untuk mengimplementasikan inisiatif nasional dalam meningkatkan ketersediaan pelayanan kesehatan yang terjangkau dan efektif. Melalui upaya kolaboratif ini, dampak kontribusi menjadi berlipat dan lebih cepat dalam mengurangi kesenjangan akses, kualitas, dan keterjangkauan layanan kesehatan mental, serta gangguan penggunaan narkoba di kalangan remaja dan dewasa muda. Kolaborasi juga memecah silo yang membutuhkan upaya lebih. Oleh karena itu, semua dukungan dapat berdampak lebih apabila bekerja sama dengan yayasan yang memiliki jaringan dan ide pemikiran yang baik.

Menurut Center for High Impact Philanthropy, “Dukungan filantropi dapat dilakukan dengan mendanai program nonprofit yang memberikan layanan langsung kepada mereka yang membutuhkan; meningkatkan kapasitas sistem agar program dapat berfungsi lebih efektif dan efisien; mendanai penelitian yang mendukung program-program ini; dan mendukung inisiatif kebijakan yang diperlukan untuk mempertahankannya. Hal tersebut juga dapat mendukung inovasi yang berpotensi menciptakan perubahan besar di masyarakat.”

Mackenzie Scott adalah filantropis yang berpengaruh, bukan hanya karena dia mampu menyumbangkan hibah bernilai besar, tetapi juga karena cara mengimplementasikan hibah tersebut yang menjadi contoh bagi filantropis lain. Karena hibah dari Scott tidak dibatasi, misalnya, hibah tersebut dapat digunakan secara konsisten ke bidang yang paling membutuhkan dan berdampak paling besar, menurut sudut pandang organisasi penerima. Berkat hibah tak terbatas dari Scott, JED akan mendanai program untuk membantu kaum muda melalui krisis saat ini sambil melengkapi tim, pembuat kebijakan, pendidik, orang tua/pengasuh, mitra, dan berbagai langkah penting berikutnya.

Selain menyediakan sumber daya yang sangat dibutuhkan, hadiah dan hibah filantropi cukup menarik perhatian pada kasus tertentu. Jika pemberian hibah diumumkan, tindakan tersebut mendorong orang lain untuk belajar, mengadvokasi, dan mendukung organisasi secara finansial untuk memajukan perubahan yang berarti. Seringkali, hal tersebut dapat memperkuat dan mempercepat dampak pemberian hibah.

Dengan meningkatnya urgensi kesehatan mental remaja, semakin dibutuhkan peran filantropis dalam memberikan dukungan langsung. Meskipun telah banyak organisasi nonprofit seperti JED yang berperan dalam membantu peningkatan sistem pelayanan kesehatan di AS, bantuan atau sumbangan dari individu dan perusahaan memungkinkan pelaksanaan program lebih cepat dan efektif. Sumbangan dapat mendorong dan memastikan program keberlanjutan bagi kaum muda AS.

Sumber: https://jedfoundation.org/news-views/philanthropy-is-a-critical-tool-in-addressing-the-youth-mental-health-crisis/