Tantangan Paska Pandemi dalam Menekan Angka Gizi Kurang pada Anak

Tantangan Paska Pandemi dalam Menekan Angka Gizi Kurang pada Anak

Berita

Depok –  Selain stunting, Pemerintah juga fokus pada penekanan kasus wasting (gizi kurang pada anak). Seperti diketahui, wasting merupakan kondisi ketika berat badan anak menurun, sangat kurang, atau bahkan berada di bawah rentang normal dari usianya. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memprediksi angka Gizi Kurang pada balita akan meningkat, yaitu sebesar 15 persen atau setara dengan 7 juta anak, pasca pandemi COVID-19.

Berdasarkan data Kemenkes melalui Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) pada 2021, jumlah anak yang mengalami wasting secara nasional memang menunjukkan penurunan menjadi 7,1 persen dari yang sebelumnya 7,4 persen pada 2019. Namun, jumlah anak yang mengalami kondisi underweight atau berat badan kurang, naik sebanyak 17 persen pada tahun 2021. Jumlah tersebut Meningkat dari 2019 yang mencapai 16,3 persen. Hal ini dikhawatirkan dapat memicu meningkatnya kejadian wasting. Menurut data SSGI 2021, terdapat lima provinsi yang memiliki prevalensi balita wasted tertinggi dan masuk dalam pantauan Kemenkes yakni Maluku 12 persen, Papua Barat 10,8 persen, Aceh 10,7 persen, Maluku Utara 10,6 persen dan Kalimantan Selatan 10,3 persen.

Penyebab Gizi Kurang pada Anak

“Perkiraan kita pasca pandemi setelah dua tahun dengan kondisi yang dalam keadaan pandemi maka akan terjadi peningkatan wasting sebanyak 15 persen atau tujuh juta anak,” ungkap Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes Siti Nadia Tarmizi dalam workshop: Menganalisis Tren Stunting dan Persoalan Sistematis Gizi Buruk. Nadia menambahkan bahwa meningkatnya masalah gizi pada anak dipengaruhi oleh dampak COVID-19 yang terjadi di keluarga. Dampak yang dimaksud adalah berkurangnya pendapatan, hilangnya pekerjaan, faktor bekerja dari rumah hingga terdampaknya sektor informal.

Sementara penyebab wasting (Gizi Kurang) pada anak bisa terjadi karena beberapa faktor, di antaranya; Asupan makanan tidak bergizi, makanan terbatas dan pilihannya tidak beragam, kurangnya pengetahuan mengenai nutrisi anak, kebersihan lingkungan yang buruk, dan kurangnya akses ke pelayanan kesehatan. Demi bisa menekan kenaikan wasting, kita bisa berkaca dari program Sahabat Gizi Kita (SAGITA) Human Initiative. Dimana pada Desember 2015, program ini bisa menjauhkan Siti Julaika dari ancaman gizi buruk. Ketika itu, Siti Julaika adalah satu dari 1,3 juta balita di Indonesia yang mengalami gizi buruk. Siti Julaika hanya memiliki berat badan 6,9 Kg, saat usianya sudah mencapai satu tahun 7 bulan.

Tentu itu jauh dari berat badan ideal di usianya, jika kita mengacu pada standar gizi WHO. Dengan usianya tersebut Julaika harusnya memiliki berat badan minimal 9,2 Kg. Menginjak awal Februari 2016, setelah mendapatkan pengasuhan dari SAGITA, berat badan Julaika meningkat menjadi 9,2 Kg. Alhamdulillah status kesehatannya sudah mulai meningkat menjadi gizi baik. Dengan begitu Siti Julaika dapat keluar dari ancaman bahaya gizi buruk, artinya ia memiliki peluang masa depan cerah yang lebih besar. Julaika adalah salah satu gambaran dari ratusan balita yang dibina Human Initiative. Dalam lima tahun terakhir, Human Initiative melalui Program SAGITA telah membina 3550 balita gizi buruk dan kurang di Indonesia.

Balita-balita malnutrisi yang dibina oleh Human Initiative tersebar di berbagai provinsi di Indonesia, antara lain di Darul Siem DI Aceh, Teluk Kabung Sumatera Barat, Desa Karang Pulau Bengkulu, Bahkapul Sumatera Utara, Bencah Lesung Riau, Keteguhan Lampung, Sujung Banten, Tangerang Banten, Subang dan Majalengka Jawa Barat, Desa Tenjo Bogor, Desa Bumijo, Muja-Muju, Badran, Tidar dan Logede Yogyakarta, Klaten, Meteseh Semarang, Namosain Kupang, Sesela Lombok, dan Ejaberu Makassar, Jeneponto Sulawesi Selatan.

Cara Mengatasi Gizi Kurang pada Anak

Kemudian kita juga harus tahu bagaimana mengatasi Gizi Kurang pada Balita. Seperti di bawah ini:

  • Memberikan makanan padat energi untuk membantu meningkatkan berat badannya. Seperti kacang-kacangan dan produk yang berasal dari hewan.
  • Memberikan makanan bergizi seimbang yang terdiri dari makanan pokok, lauk-pauk, sayur-mayur, dan buah-buahan.
  • Memberikan formula Ready to Use Therapeutic Food (RUTF), yaitu makanan padat bentuk pasta yang diperkaya dengan zat gizi berupa vitamin dan mineral untuk memulihkan balita wasting.
  • Memberikan suplemen penambah berat badan jika diperlukan.
  • Mengobati penyakit pemicu wasting pada anak.
  • Pantau berat badan anak menggunakan Kartu Menuju Sehat. Kartu ini digunakan untuk mencatat perkembangan anak.

Dengan mencontoh beberapa langkah di atas, rata-rata jumlah balita yang mengalami peningkatan status gizi berada di kisaran 55-80% di setiap wilayah binaan. Dari 3300 balita yang dibina, seluruhnya mengalami peningkatan berat badan dan sebesar 1.980 balita mengalami peningkatan status gizi setelah 10 bulan program berjalan.

Salah satu wilayah binaan Human Initiative di Jeneponto, Sulawesi Selatan misalnya, dari total 48 balita yang didampingi, awalnya terdapat 13 balita dengan status gizi buruk dan 35 balita mengalami gizi kurang. Pasca intervensi program, jumlah balita gizi buruk berkurang menjadi empat anak, balita gizi kurang berkurang menjadi 22 anak, dan terdapat 22 balita yang sudah menjadi gizi baik. Jumlah balita yang mengalami peningkatan status gizi sebesar 65%.

Langkah Mencegah Gizi Kurang pada Anak

Bilamana kita tidak menginginkan kasus kurang gizi pada anak terjadi di daerah yang mungkin belum terjamah, sebaiknya masyarakat bisa memahami bagaimana cara mencegah wasting pada anak-anak.

Terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan supaya asupan nutrisi dan kesehatan anak tetap terjaga. Berikut cara mencegah wasting pada anak:

  • Memberikan ASI eksklusif jika anak berusia di bawah 6 bulan.
  • Mencukupi kebutuhan gizi anak dengan memberinya makanan bergizi.
  • Mencuci sayur dan buah menggunakan air bersih sebelum dimasak.
  • Melakukan imunisasi rutin sesuai jadwal.
  • Meningkatkan sanitasi dan kebersihan lingkungan.
  • Jauhkan anak dari paparan asap rokok.
  • Membawa anak ke pelayanan kesehatan ketika sakit.

Pada penghujung tahun 2022 ini, mari kita mencegah dan menekan angka wasting, seperti inisiasi yang dilakukan Human Initiative dalam sebuah kampanye #NyalakanHarapan. Human Initiative mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berpartisipasi dalam wujudkan harapan anak bangsa. Program ini salah satunya berfokus kepada penguatan gizi pada anak dan balita. Kampanye ini pun diselenggarakan serentak secara nasional oleh Human Initiative dan 13 cabang di Indonesia. Human Initiative saat ini memiliki program Sahabat Gizi Kita (SAGITA) yang menjadi upaya turunkan angka stunting di Indonesia. Harapannya, program ini dapat bermanfaat lebih luas lagi dengan kampanye #NyalakanHarapan ini, mengingat angka wasting dan stunting pada Anak yang masih cukup tinggi.

Dokter Nadhira Nuraini Afifa, seorang ahli kesehatan masyarakat, juga berupaya menurunkan angka stunting di Indonesia. Kini, ia berkolaborasi dengan Human Initiative untuk dapat berkunjung ke pelosok Indonesia yaitu daerah NTT untuk dapat membantu anak-anak di sana mendapatkan gizi yang lebih baik.

”Isu stunting menjadi dekat dengan saya, karena beberapa kali saya berkesempatan berkunjung ke daerah-daerah dengan angka stunting yang cukup tinggi,” ungkapnya.

Sumber: https://human-initiative.org/tantangan-gizi-kurang-pada-anak/